Sekian lama diselimuti penyakit diabetes atau kencing manis tak membuat Beliau patah arah dan patah semangat. Abah adalah sosok yang istimewa dalam hidupku dan hari-hariku, karena Abah sudah mengajarkanku bagaimana hidup didunia ini adalah tidak kekal atau abadi. Karena kita hidup didunia ini seakan-akan hanya numpang lewat dan bersinggah untuk minum air saja.
Di usiaku yang saat itu masih tergolong belia, waktu itu umurku 10 tahun. Namun aku harus melewati hari-hari penuh kesedihan yang tak kunjung bahagia disaat melihat keadaan Abah bertambah hari tambah parah dengan bergelut dengan penyakit kencing manisnya.
Dalam setahun mungkin bisa sampai 5 kali keluar masuk rumah sakit, dan tiba saatnya waktu itu jarinya harus terpaksa di amputasi. Karena mungkin sudah begitu parah apabila seseorang terkena luka dan mengidap penyakit kencing manis.
Dan saat itu pula aku merasa sedih melihat keadaan Abah yang mungkin banyak terbaring di tempat tidur, dalam setiap malamnya aku selalu menemani Beliau dalam tidurnya. Karena mungkin saat itu tulang punggung keluarga beralih dipegang oleh Ibu yang setiap malam harus menahan kantuk untuk berjualan nasi dikawasan terminal pariwisata Kab. Demak.
Hari berganti hari dan begitupun juga kebahagiaan yang awalnya mulai indah berubah menjadi kesedihan, ketika aku sekolah saat itu masih duduk di bangku sekolah dasar kelas lima. Pagi itu ketika saat fokus belajar karena memang waktu itu ada latihan soal mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, tiba-tiba kakak iparku (Mas Aji) menjemput aku disekolah dan diajak untuk izin pulang karena aku dikabarin kalau Abah pagi itu juga masuk rumah sakit untuk kesekian kalinya. Tak bisa dibayangkan dan seakan kesedihaan selalu melanda dalam hari-hariku ketika mendengar kabar buruk itu.
Dengan langkah lemah dengan digandeng oleh seorang kakak, aku menuju ke rumah sakit yang memang tidak terlalu jauh dari tempatku menimba ilmu. Ketika tiba didepan pintu masuk kamar ruang rawat inap, aku mulai lemah melihat kondisi Abah yang saat itu terbaring lemah diatas blangkar dengan bantuan tabung oksigen untuk memperlancar pernafasannya.
Dengan penuh kesedihan aku mendekati Abah dan menyalaminya dan mencium keningnya, Abah mengetahui kehadiranku dan saat itu beliau memberikan nasehat yang akan selalu aku ingat untuk selamanya. "Nak kamu yang rajin belajar, rajin ibadah dan jangan nakal-nakal." Dan yang paling mencengangkan Abah sempat berkata "Jangan lupa kalau setiap jum'at harus nengokin makam Abah". Saat itu juga aku mulai bertambah sedih dan aku membalas dengan diiringi aliran air mata yang membasuh pipiku "Abah jangan bilang begitu, Abah pasti kuat dan sembuh".
Aku tak menyangka Abah bisa mengatakan kata-kata itu, apakah itu pertanda atau bagaimana. Namun pada saat itu akupun tak menginginkan hal itu terjadi, karena aku masih membutuhkan sosok seorang Abah ada didalam hidupku dan melihat masa depanku dan tersenyum sampai aku benar-benar sukses.
Sore haripun tiba dan aku beranjak pulang, karena memang saat itu aku disuruh istirahat dan menjaga rumah bersama kakak perempuanku. Namun sore malam harinya selepas isya' kakakku pergi ke rumah sakit dan aku ditinggal di rumah sendirian.
Aku merasa gelisah dan fikiranku tidak tenang, dan saat itu juga rumah akau tinggalkan dan beranjak menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit orang-orang sudah banyak sekali yang menjenguk dan berdo'a bersama-sama karena memang saat itu kondisi Abah lama-lama bertambah parah.
Aku saat itu menghampiri ibu yang saat itu sedang sedih dan berlinangan air mata, ibupun memelukku erat dan berkata "Semoga Abah baik-baik saja nak".
Tanpa aku duga ternyata Abah memang harus masuk ruang ICU dan perlu perawatan intensive, Abah mulai didorong menggunakan blangkar dan masih menggunakan oksigen.
Aku mulai merasa begitu sedih dan merasa masih begitu butuh kasih sayang Abah, karena aku masih begitu belia dan kecil dan terlalu ddini jika Abah meninggalkan aku dan keluarga untuk selama-lamanya.
Malam telah larut dan saat itu juga akau ingin selalu mendampingi Abah disisinya, namun ibu tidak sependapat dengan hatiku dan aku disuruh pulang ke rumah sama kakakku karena aku besok disuruh berangkat sekolah.
Aku pun bernajak pulang dengan kakaku dan malam itu pun akau terlelpa tidur karena memang hari itu aku benar-benar lelah dan lemas.
Pagi hari sekitar jam tiga dini hari, bude dan pakde aku datang ke rumah dan mengetuk pintu. Pada saat itu yang membukakan pintu adalah kakakku. Dan begitupun terkejutnya karena pakde dan budeku membawa kabar bahwa Abah telah tiada untuk selama-lamanya, sontak aku langsung bangun dari tempat tidurku.
Aku lemah, sedih dan meneteskan air mata saat itu juga. Aku merasa tidak yakin dan tidka percaya bahwa Abah telah meniggalkan aku dan seluruh keluarga tercinta untuk menghadap kepada Sang Khaliq untuk selama-lamanya.





0 komentar:
Posting Komentar