Facebook Twitter Fans Page
»«Visit site www.gunadarma.ac.id»«

[Tugas IBD | Tulisan Bebas] Fatin Shidqia Lubis, Dari Ahmad Dhani Hingga Ulama MUI

Written By Admin - Cyber the Virtual World on Minggu, 28 April 2013 | 10.05


"Namanya Siapa..?" Seorang siswi SMA terlihat malu malu ketika juri X Factor, Mulan Jameela menanyakan nama gadis berjilbab yang masih mengenakan seragam sekolah tersebut. "Fatin Shidqia Lubis" jawabnya, dan lima menit setelahnya. Kisah hidup fatin berubah...
Yea, karena lima menit setelah itu, terkuaklah bahwa gadis tersebut tak hanya menarik perhatian orang dengan jilbab putih yang katanya lambang kesucian itu. Lebih dari itu, Fatin ternyata memiliki suara khas dengan aksen bahasa kulon yang unik. Seandainya lima menit setelah memperkenalkan namanya Fatin mendadak pingsan, atau suaranya menjadi serak tersedak isi kedondong yang entah datang darimana merenggut suaranya, kisahnya mungkin akan berbeda. Tapi semua skenario itu tak terjadi, hingga terjadilah apa yang terjadi.
Dari Ahmad Dhani Hingga Ulama MUI
Nama Fatin Shidqia Lubis mendadak menjadi bahan pembicaraan banyak orang, dukungan mengalir deras dan penampilannya di X Factor setiap malam Sabtu dinanti banyak fans nya yang menyebut diri mereka Fatinistic.
Menariknya, puja puji yang dialamatkan pada muslimah berdarah Batak Betawi kelahiran 30 Juli 1996 datang dari berbagai kalangan yang bahkan bisa dibilang bersengketa. Bagaimana tidak, dari seorang Ahmad Dhani yang dikenal sebagai tokoh kontroversial yang gencar mempromokan liberalisme serta terang terangan mensyiarkan lambang lambang Zionisme dalam karya karyanya hingga KH Cholil Ridwan, ketua Bidang Pemuda dan Kebudayaan MUI yang sebelumnya dikenal vokal kala menangani isu  Krtistenisasi dan Aliran Sesat memberi apresiasi positif.
Ahmad Dhani, Presiden Republik Cinta Management yang terang terangan mengaku bangga dengan darah Yahudi yang mengalir dari ibunya tersebut memang sejak awal terlihat tertarik mengomentari sisi Islamis yang melekat pada Fatin Shidqia dari bertanya tentang bahasa arab, Musabaqah Tilawatil Quran hingga akhirnya mendoakan semoga Fatin bisa menjadi menjadi generasi pertama penyanyi berjilbab di tanah air.
Lain halnya dengan Ahmad Dhani, KH Cholil Ridwan, alumni unversitas Madinah 1975 yang kebetulan memiliki putri bernama Fatin tersebut mengungkapkan kekhawatiran jika nantinya muncul bisikan bisikan dari pihak tertentu agar Fatin melepas jilbabnya dengan jaminan kesuksesan atau gelar juara pada ajang pencarian bakat tersebut. Dalam surat terbukanya, beliau menyampaikan rasa bangganya dengan penampilan berjilbab Fatin Shidqia pada acara tersebut dan bahkan menyampaikan apda Umat Islam untuk mendukung Fatin dengan niat mendukung syiar jilbab.
berikut isi surat dukungan KH Kholil Ridwan
Assalaamualaikum. Bapak sering menonton penampilan Fatin di X Factor, bapak dan keluarga bangga dengan kamu yang tetap berjilbab dalam penampilanmu ikutan di X Factor. Bapak sebagai Ketua MUI Pusat yang membidangi Seni dan Budaya ingin berpesan untuk Fatin sebagai berikut:

Pada suatu saat Fatin akan dihadapkan pilihan, jilbab atau karier. Misalnya akan ada yang membisikan Fatin dengan kalimat; "Kalau mau menang jadi juara I kamu harus copot jilbab!" atau "kalau mau ikut nyanyi di luar negeri kamu harus copot jilbab", Bapak pesan jangan sekali-kali kamu jual akidahmu demi karier duniawimu. Dan jauhi pergaulan negatif.

Jangan tinggalkan sholat lima waktu dengan alasan apapun, kalau terpaksa boleh di akhir waktu. Dan kalau betul-betul darurat bisa dijamak. Kepada umat Islam, khususnya muslimah yang sudah berjilbab dan anggota Hijabers, setiap Fatin mau tampil di "X Factor" dukunglah, niatkan untuk da'wah dan syiar Jilbab.
Rumus jilbab itu 3T yaitu Tidak buka aurat, Tidak transparan, dan Tidak ketat.
Terima kasih atas perhatian Fatin dan salam buat kedua orang tuamu. Wassalam

KH. A. Cholil Ridwan
Ketua MUI Pusat Bidang Seni Budaya
Semua Sayang Fatin
Selain Ahmad Dhani dan KH Cholil Ridwan, dukungan menarik juga datang dari situs berita online Tempo.co. Media Tempo dikenal memiliki reputasi merah karena beberapa kali mengangkat liputan yang merugikan Umat Islam, seperti kasus liputan Surat Terakhir Putri yang mencederai upaya penerapan syariat Islam dengan berita yang jelas tidak valid. Namun kali ini, situs media online mereka memajang foto Fatin Shidqia sebagai cover halaman rubrik seleb, hal ini memancing perhatian para fatinistic maupun haters hatersnya karena dianggap sebagai dukungan terselubung.
Image penyanyi berjilbab yang melekat pada Fatin menjadikan setiap penampilan Fatin mendapatkan perhatian khusus dengan standar khusus pula dari masyarakat. Seperti ketika Fatin mulai mengenakan pakaian ketat dan bahkan berpelukan dengan salah seorang kontestan pria memancing kritikan pedas saat videonya diunggah di Youtube. Mereka seakan tak rela tokoh kesayangannya ternodai dengan gaya hidup seleb yang bebas dan urakan.
Fatin Shidqia, dinilai tidak hanya tampil mewakili dirinya sendiri, penampilan berjilbabnya menjadikannya diposisikan sebagai sosok kesayangan yang mewakili muslimah Indonesia. Maklum, meskipun diklaim sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, sosok penyanyi berjilbab masih menjadi barang langka disini. Maka sebagai penyanyi berjilbab, Fatin dianggap tak perlu latah terseret arus, hal ini disampaikan oleh personel Slank, Bimbim saat diundang menjadi bintang tamu dalam acara X Factor "Fatin jangan goyang, jangan buka jilbab."
Seakan menyadari dukungan berbagai kalangan masyarakat dan posisinya sebagai Image muslimah, Fatin Shidqia terlihat mulai memperbaiki cara berpakaiannya kembali. Kehati hatian Fathin Shidqia juga terlihat kala membawakan lagu Bruno Mars, It Will Rain, Fatin tidak menyanyikan lirik beraroma atheisme dalam lagu tersebut " theres no religion could save me..."  hal tersebut tidak luput dari pengamatan masyarakat dan melahirkan apresiasi di situs berbagi video Youtube.
Sebelumnya, sosok penyanyi berjilbab hanya identik dengan lagu lagu religi yang ramai di bulan Ramadhan. Bahkan tak jarang, beberapa artis seolah menggunakan bulan Ramadhan sebagai momen promosi jilbab, karena paska Ramadhan mereka menanggalkan kewajiban bagi setiap muslimah tersebut. Sehingga menimbulkan kesan bahwa jilbab hanya sekedar komoditi strategis untuk meraih pasar masyarakat Indonesia yang sebenarnya memiliki kultur keislaman yang kuat.
Begitulah, fenomena Fatinistic seakan memberikan pelajaran bagi kita bahwa segencar apapun orang orang liberal dan sekuler mencemari masyarakat Indonesia. Kultur keislaman yang mengakar kuat pada masyarakat Indonesia tidak bisa begitu saja tercerabut. Di Indonesia, meskipun seseorang belum menjalankan ajaran Islam secara kaffah, rasa segan tetaplah muncul kala ia berhadapan dengan simbol simbol keislaman seperti Jilbab, Sorban, Jenggot dll.
Hal inilah yang menjadikan fenomena Fatin mendapat apresiasi khusus dari masyarakat, sosok Fatin jelas dinilai lebih mewakili masyarakat Indonesia pada umumnya dibandingkan Agnes Monica yang lebih dulu tenar misalnya. Begitu juga dengan wanita wanita yang disebut mewakili Indonesia dalam ajang Miss Universe atau yang disebut sebagai Putri Indonesia.
Sosok sosok tersebut hanyalah sosok palsu yang diciptakan untuk mewakili bangsa Indonesia, untuk mengajarkan anak anak gadis di Indonesia bagaimana musti berperilaku dan berpenampilan. Namun tetap saja, kultur bangsa Indonesia tak mudah dihapus, bukan karena adat adat ketimuran seperti diungkapkan kalangan nasionalis. Tapi karena nilai nilai Islam yang sejak dulu mudah diterima masyarakat Indonesia. Dan secara umum, nilai nilai keislaman amatlah cocok bagi bangsa manusia dimanapun mereka berada.
 
Source : http://www.shoutussalam.com/

Artikel Terkait Lainnya



0 komentar:

Posting Komentar