"Namanya
Siapa..?" Seorang siswi SMA terlihat malu malu ketika juri X Factor,
Mulan Jameela menanyakan nama gadis berjilbab yang masih mengenakan
seragam sekolah tersebut. "Fatin Shidqia Lubis" jawabnya, dan lima
menit setelahnya. Kisah hidup fatin berubah...
Yea, karena lima menit setelah itu, terkuaklah bahwa gadis tersebut
tak hanya menarik perhatian orang dengan jilbab putih yang katanya
lambang kesucian itu. Lebih dari itu, Fatin ternyata memiliki suara khas
dengan aksen bahasa kulon yang unik. Seandainya lima menit setelah
memperkenalkan namanya Fatin mendadak pingsan, atau suaranya menjadi
serak tersedak isi kedondong yang entah datang darimana merenggut
suaranya, kisahnya mungkin akan berbeda. Tapi semua skenario itu tak
terjadi, hingga terjadilah apa yang terjadi.
Dari Ahmad Dhani Hingga Ulama MUI
Nama Fatin Shidqia Lubis mendadak menjadi bahan pembicaraan banyak
orang, dukungan mengalir deras dan penampilannya di X Factor setiap
malam Sabtu dinanti banyak fans nya yang menyebut diri mereka Fatinistic.
Menariknya, puja puji yang dialamatkan pada muslimah berdarah Batak
Betawi kelahiran 30 Juli 1996 datang dari berbagai kalangan yang bahkan
bisa dibilang bersengketa. Bagaimana tidak, dari seorang Ahmad Dhani
yang dikenal sebagai tokoh kontroversial yang gencar mempromokan
liberalisme serta terang terangan mensyiarkan lambang lambang Zionisme
dalam karya karyanya hingga KH Cholil Ridwan, ketua Bidang Pemuda dan
Kebudayaan MUI yang sebelumnya dikenal vokal kala menangani isu
Krtistenisasi dan Aliran Sesat memberi apresiasi positif.
Ahmad Dhani, Presiden Republik Cinta Management yang terang terangan
mengaku bangga dengan darah Yahudi yang mengalir dari ibunya tersebut
memang sejak awal terlihat tertarik mengomentari sisi Islamis yang
melekat pada Fatin Shidqia dari bertanya tentang bahasa arab, Musabaqah
Tilawatil Quran hingga akhirnya mendoakan semoga Fatin bisa menjadi
menjadi generasi pertama penyanyi berjilbab di tanah air.
Lain halnya dengan Ahmad Dhani, KH Cholil Ridwan, alumni unversitas
Madinah 1975 yang kebetulan memiliki putri bernama Fatin tersebut
mengungkapkan kekhawatiran jika nantinya muncul bisikan bisikan dari
pihak tertentu agar Fatin melepas jilbabnya dengan jaminan kesuksesan
atau gelar juara pada ajang pencarian bakat tersebut. Dalam surat
terbukanya, beliau menyampaikan rasa bangganya dengan penampilan
berjilbab Fatin Shidqia pada acara tersebut dan bahkan menyampaikan apda
Umat Islam untuk mendukung Fatin dengan niat mendukung syiar jilbab.
berikut isi surat dukungan KH Kholil Ridwan
Assalaamualaikum. Bapak sering menonton penampilan Fatin di X
Factor, bapak dan keluarga bangga dengan kamu yang tetap berjilbab dalam
penampilanmu ikutan di X Factor. Bapak sebagai Ketua MUI Pusat yang
membidangi Seni dan Budaya ingin berpesan untuk Fatin sebagai berikut:
Pada suatu saat Fatin akan dihadapkan pilihan, jilbab atau karier. Misalnya akan ada yang membisikan Fatin dengan kalimat; "Kalau mau menang jadi juara I kamu harus copot jilbab!" atau "kalau mau ikut nyanyi di luar negeri kamu harus copot jilbab", Bapak pesan jangan sekali-kali kamu jual akidahmu demi karier duniawimu. Dan jauhi pergaulan negatif.
Jangan tinggalkan sholat lima waktu dengan alasan apapun, kalau terpaksa boleh di akhir waktu. Dan kalau betul-betul darurat bisa dijamak. Kepada umat Islam, khususnya muslimah yang sudah berjilbab dan anggota Hijabers, setiap Fatin mau tampil di "X Factor" dukunglah, niatkan untuk da'wah dan syiar Jilbab.
Rumus jilbab itu 3T yaitu Tidak buka aurat, Tidak transparan, dan Tidak ketat.
Terima kasih atas perhatian Fatin dan salam buat kedua orang tuamu. Wassalam
KH. A. Cholil Ridwan
Ketua MUI Pusat Bidang Seni Budaya
Pada suatu saat Fatin akan dihadapkan pilihan, jilbab atau karier. Misalnya akan ada yang membisikan Fatin dengan kalimat; "Kalau mau menang jadi juara I kamu harus copot jilbab!" atau "kalau mau ikut nyanyi di luar negeri kamu harus copot jilbab", Bapak pesan jangan sekali-kali kamu jual akidahmu demi karier duniawimu. Dan jauhi pergaulan negatif.
Jangan tinggalkan sholat lima waktu dengan alasan apapun, kalau terpaksa boleh di akhir waktu. Dan kalau betul-betul darurat bisa dijamak. Kepada umat Islam, khususnya muslimah yang sudah berjilbab dan anggota Hijabers, setiap Fatin mau tampil di "X Factor" dukunglah, niatkan untuk da'wah dan syiar Jilbab.
Rumus jilbab itu 3T yaitu Tidak buka aurat, Tidak transparan, dan Tidak ketat.
Terima kasih atas perhatian Fatin dan salam buat kedua orang tuamu. Wassalam
KH. A. Cholil Ridwan
Ketua MUI Pusat Bidang Seni Budaya
Semua Sayang Fatin
Selain Ahmad Dhani dan KH Cholil Ridwan, dukungan menarik juga datang
dari situs berita online Tempo.co. Media Tempo dikenal memiliki
reputasi merah karena beberapa kali mengangkat liputan yang merugikan
Umat Islam, seperti kasus liputan Surat Terakhir Putri yang
mencederai upaya penerapan syariat Islam dengan berita yang jelas tidak
valid. Namun kali ini, situs media online mereka memajang foto Fatin
Shidqia sebagai cover halaman rubrik seleb, hal ini memancing perhatian
para fatinistic maupun haters hatersnya karena dianggap sebagai dukungan terselubung.
Image penyanyi berjilbab yang melekat pada Fatin menjadikan setiap
penampilan Fatin mendapatkan perhatian khusus dengan standar khusus pula
dari masyarakat. Seperti ketika Fatin mulai mengenakan pakaian ketat
dan bahkan berpelukan dengan salah seorang kontestan pria memancing
kritikan pedas saat videonya diunggah di Youtube. Mereka seakan tak rela
tokoh kesayangannya ternodai dengan gaya hidup seleb yang bebas dan
urakan.
Fatin Shidqia, dinilai tidak hanya tampil mewakili dirinya sendiri,
penampilan berjilbabnya menjadikannya diposisikan sebagai sosok
kesayangan yang mewakili muslimah Indonesia. Maklum, meskipun diklaim
sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, sosok penyanyi
berjilbab masih menjadi barang langka disini. Maka sebagai penyanyi
berjilbab, Fatin dianggap tak perlu latah terseret arus, hal ini
disampaikan oleh personel Slank, Bimbim saat diundang menjadi bintang
tamu dalam acara X Factor "Fatin jangan goyang, jangan buka jilbab."
Seakan menyadari dukungan berbagai kalangan masyarakat dan posisinya
sebagai Image muslimah, Fatin Shidqia terlihat mulai memperbaiki cara
berpakaiannya kembali. Kehati hatian Fathin Shidqia juga terlihat kala
membawakan lagu Bruno Mars, It Will Rain, Fatin tidak menyanyikan lirik
beraroma atheisme dalam lagu tersebut " theres no religion could save
me..." hal tersebut tidak luput dari pengamatan masyarakat dan
melahirkan apresiasi di situs berbagi video Youtube.
Sebelumnya, sosok penyanyi berjilbab hanya identik dengan lagu lagu
religi yang ramai di bulan Ramadhan. Bahkan tak jarang, beberapa artis
seolah menggunakan bulan Ramadhan sebagai momen promosi jilbab, karena
paska Ramadhan mereka menanggalkan kewajiban bagi setiap muslimah
tersebut. Sehingga menimbulkan kesan bahwa jilbab hanya sekedar komoditi
strategis untuk meraih pasar masyarakat Indonesia yang sebenarnya
memiliki kultur keislaman yang kuat.
Begitulah, fenomena Fatinistic seakan memberikan pelajaran bagi kita
bahwa segencar apapun orang orang liberal dan sekuler mencemari
masyarakat Indonesia. Kultur keislaman yang mengakar kuat pada
masyarakat Indonesia tidak bisa begitu saja tercerabut. Di Indonesia,
meskipun seseorang belum menjalankan ajaran Islam secara kaffah, rasa
segan tetaplah muncul kala ia berhadapan dengan simbol simbol keislaman
seperti Jilbab, Sorban, Jenggot dll.
Hal inilah yang menjadikan fenomena Fatin mendapat apresiasi khusus
dari masyarakat, sosok Fatin jelas dinilai lebih mewakili masyarakat
Indonesia pada umumnya dibandingkan Agnes Monica yang lebih dulu tenar
misalnya. Begitu juga dengan wanita wanita yang disebut mewakili
Indonesia dalam ajang Miss Universe atau yang disebut sebagai Putri
Indonesia.
Sosok sosok tersebut hanyalah sosok palsu yang diciptakan untuk
mewakili bangsa Indonesia, untuk mengajarkan anak anak gadis di
Indonesia bagaimana musti berperilaku dan berpenampilan. Namun tetap
saja, kultur bangsa Indonesia tak mudah dihapus, bukan karena adat adat
ketimuran seperti diungkapkan kalangan nasionalis. Tapi karena nilai
nilai Islam yang sejak dulu mudah diterima masyarakat Indonesia. Dan
secara umum, nilai nilai keislaman amatlah cocok bagi bangsa manusia
dimanapun mereka berada.
Source : http://www.shoutussalam.com/




0 komentar:
Posting Komentar